<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>An-Nabawi</title>
	<atom:link href="http://annabawi.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://annabawi.com</link>
	<description>Just another WordPress weblog</description>
	<lastBuildDate>Fri, 09 Sep 2011 13:03:47 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Selamat Iedul Fithri 1432 H</title>
		<link>http://annabawi.com/2011/08/22/mukhayyam-al-quran/</link>
		<comments>http://annabawi.com/2011/08/22/mukhayyam-al-quran/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Aug 2011 04:18:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nirwan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Info An-Nabawi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://annabawi.com/?p=322</guid>
		<description><![CDATA[Menyambut Iedul Fithri 1432 H ini, segenap keluarga besar Masjid An-Nabawi (Yayasan, DKM, Koperasi, Bina Pusara, Orangtua Asuh, TK, dan Bazis) mengucapkan Selamat Iedul Fithri 1432 H,aqabbalallah minna waminkum, minal a'idin walfa'izin, mohon maaf lahir dan batin....

Semoga seblasbulan ke depan, kita dapat melanjutkan apa yang sudah biasa kita amalkan di bulan Ramadhan yang baru lewat.... ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Menyambut Iedul Fithri 1432 H ini, segenap keluarga besar Masjid An-Nabawi (Yayasan, DKM, Koperasi, Bina Pusara, Orangtua Asuh, TK, dan Bazis) mengucapkan Selamat Iedul Fithri 1432 H,aqabbalallah minna waminkum, minal a&#8217;idin walfa&#8217;izin, mohon maaf lahir dan batin&#8230;.</p>
<p>Semoga seblasbulan ke depan, kita dapat melanjutkan apa yang sudah biasa kita amalkan di bulan Ramadhan yang baru lewat&#8230;. </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://annabawi.com/2011/08/22/mukhayyam-al-quran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Semangat Memperbanyak Bacaan Al-Qur’an</title>
		<link>http://annabawi.com/2011/08/12/semangat-memperbanyak-bacaan-al-qur%e2%80%99an/</link>
		<comments>http://annabawi.com/2011/08/12/semangat-memperbanyak-bacaan-al-qur%e2%80%99an/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Aug 2011 04:15:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nirwan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Al Qur'an]]></category>
		<category><![CDATA[Info An-Nabawi]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian An-Nabawi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://annabawi.com/?p=320</guid>
		<description><![CDATA[Salah Satu Ibadah paling agung adalah membaca Al Quran.
 
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رضى الله عنهما : ضَمِنَ اللَّهُ لِمَنَ اتَّبَعَ الْقُرْآنَ أَنْ لاَ يَضِلَّ فِي الدُّنْيَا ، وَلاَ يَشْقَى فِي الآخِرَةِ ، ثُمَّ تَلاَ فَمَنَ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلاَ يَضِلُّ وَلاَ يَشْقَى.
 
Artinya: “Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata: “Allah telah menjamin bagi siapa yang mengikuti Al Quran, tidak akan sesat di dunia dan tidak akan merugi di akhirat”, kemudian beliau membaca ayat:
{فَمَنَ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلاَ يَضِلُّ وَلاَ يَشْقَى}
Artinya: “Lalu barang siapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka”. QS. Thaha: 123. Atsar shahih diriwayatkan di dalam kitab Mushannaf Ibnu Abi Syaibah.
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>بسم الله الرحمن الرحيم, الحمد لله رب العالمين و صلى الله و سلم و بارك على نبينا محمد و آله و صحبه أجمعين, أما بعد:</p>
<p>Telah berlalu 10 hari dari bulan Ramadhan 1432H, semoga seluruh amal ibadah kita dan kaum muslim diterima Allah Ta’ala.</p>
<p>Salah satu amalan sangat utama di dalam Ramadhan adalah memperbanyak membaca Al Quran, bahkan ini berlaku bagi siapa saja, meskipun dia tidak memahami satu katapun dari apa yang dia baca dari ayat-ayat Al Quran, maka tetap memperbanyak membaca Al Quran merupakan amalan yang sangat diprioritaskan baginya di dalam Ramadhan bulan yang penuh berkah ini. </p>
<p>1.    Membaca Al Quran adalah perdagangan yang tidak pernah merugi.</p>
<p>{ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ (29) لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ (30) }</p>
<p>Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan salat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi”. “Agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri”. QS. Fathir: 29-30.</p>
<p>Ibnu Katsir rahimahullah berkata:</p>
<p>قال قتادة  رحمه الله: كان مُطَرف، رحمه الله، إذا قرأ هذه الآية يقول: هذه آية القراء.</p>
<p>Artinya: “Berkata Qatadah (w: 118H) rahimahullah: “Mutahrrif bin Abdullah (Tabi’ie, w: 95) jika membaca ayat ini beliau berkata: “Ini adalah ayat orang-orang yang suka membaca Al Quran”.Lihat kitab Tafsir Al Quran Al Azhim.</p>
<p>Berkata Asy Syaukani (w: 1281H) rahimahullah:</p>
<p>أي : يستمرّون على تلاوته ، ويداومونها .</p>
<p>Artinya: “Maksudnya adalah terus menerus membacanya dan menjadi kebiasaannya”. Lihat kitab Tafsir Fath Al Qadir.</p>
<p>Dari manakah sisi tidak meruginya perdagangan dengan membaca Al Quran?</p>
<p>1)   Satu hurufnya diganjar dengan 1 kebaikan dan dilipatkan menjadi 10 kebaikan.</p>
<p>عَنْ عَبْد اللَّهِ بْنَ مَسْعُودٍ رضى الله عنه يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لاَ أَقُولُ الم حرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ ».</p>
<p>Artinya: “Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallambersabda: “Siapa yang membaca satu huruf dari Al Quran maka baginya satu kebaikan dengan bacaan tersebut, satu kebaikan dilipatkan menjadi 10 kebaikan semisalnya dan aku tidak mengatakan الم satu huruf akan tetapi Alif satu huruf, Laam satu huruf dan Miim satu huruf”.HR. Tirmidzi dan dishahihkan di dalam kitab Shahih Al Jami’, no. 6469.</p>
<p>عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بن مسعود رضى الله عنه قَالَ : تَعَلَّمُوا هَذَا الْقُرْآنَ ، فَإِنَّكُمْ تُؤْجَرُونَ بِتِلاَوَتِهِ بِكُلِّ حَرْفٍ عَشْرَ حَسَنَاتٍ ، أَمَا إِنِّى لاَ أَقُولُ بِ الم وَلَكِنْ بِأَلِفٍ وَلاَمٍ وَمِيمٍ بِكُلِّ حَرْفٍ عَشْرُ حَسَنَاتٍ.<br />
Artinya: “Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Pelajarilah Al Quran ini, karena sesungguhnya kalian diganjar dengan membacanya setiap hurufnya 10 kebaikan, aku tidak mengatakan itu untuk الم  , akan tetapi untuk untuk Alif, Laam, Miim, setiap hurufnya sepuluh kebaikan”. Atsar riwayat Ad Darimy dan disebutkan di dalam kitab Silsilat Al Ahadits Ash Shahihah, no. 660.</p>
<p>Dan hadits ini sangat menunjukan dengan jelas, bahwa mulim siapapun yang membaca Al Quran baik paham atau tidak paham, maka dia akan mendapatkan ganjaran pahala sebagaimana yang dijanjikan. Dan sesungguhnya kemuliaan Allah Ta’ala itu Maha Luas, meliputi seluruh makhluk, baik orang Arab atau ‘Ajam (yang bukan Arab), baik yang bisa bahasa Arab atau tidak.</p>
<p>2)   Kebaikan akan menghapuskan kesalahan.</p>
<p>{ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ} [هود: 114]<br />
Artinya: “Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk”. QS. Hud: 114.</p>
<p>3)   Setiap kali bertambah kwantitas bacaan bertambah pula ganjaran pahala dari Allah.</p>
<p>عنْ تَمِيمٍ الدَّارِىِّ رضى الله عنه قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ قَرَأَ بِمِائَةِ آيَةٍ فِى لَيْلَةٍ كُتِبَ لَهُ قُنُوتُ لَيْلَةٍ ».<br />
Artinya: “Tamim Ad Dary radhiyalahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallambersabda: “Siapa yang membaca 100 ayat pada suatu malam dituliskan baginya pahala shalat sepanjang malam”. HR. Ahmad dan dishahihkan di dalam kitab Shahih Al Jami’, no. 6468.</p>
<p>4)   Bacaan Al Quran akan bertambah agung dan mulia jika terjadi di dalam shalat.</p>
<p>عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضى الله عنه قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ إِذَا رَجَعَ إِلَى أَهْلِهِ أَنْ يَجِدَ فِيهِ ثَلاَثَ خَلِفَاتٍ عِظَامٍ سِمَانٍ ». قُلْنَا نَعَمْ. قَالَ « فَثَلاَثُ آيَاتٍ يَقْرَأُ بِهِنَّ أَحَدُكُمْ فِى صَلاَتِهِ خَيْرٌ لَهُ مِنْ ثَلاَثِ خَلِفَاتٍ عِظَامٍ سِمَانٍ ».<br />
Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Maukah salah seorang dari kalian jika dia kembali ke rumahnya mendapati di dalamnya 3 onta yang hamil, gemuk serta besar?”, kami (para shahabat) menajwab: “Iya”, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Salah seorang dari kalian membaca tiga ayat di dalam shalat lebih baik baginya daripada mendapatkan tiga onta yang hamil, gemuk dan besar”.HR. Muslim.</p>
<p>2.    Membaca Al Quran bagaimanapun akan mendatangkan kebaikan.<br />
عَنْ عَائِشَةَ رضى الله عنها قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ وَالَّذِى يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ ».<br />
Artinya: “Aisyah radhiyallahu ‘anha meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallambersabda: “Seorang yang lancar membaca Al Quran akan bersama para malaikat yang mulia dan senantiasa selalu taat kepada Allah, adapun yang membaca Al Quran dan terbata-bata di dalamnya dan sulit atasnya bacaan tersebut maka baginya dua pahala”. HR. Muslim.<br />
3.    Membaca Al Quran akan mendatangkan syafa’at.<br />
عَنْ أَبي أُمَامَةَ الْبَاهِلِىُّ رضى الله عنه قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لأَصْحَابِهِ&#8230;<br />
Artinya: “Abu Umamah Al Bahily radhiyallahu ‘anhu berkata: “Aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bacalah Al Quran karena sesungguhnya dia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafa’at kepada orang yang membacanya”. HR. Muslim.</p>
<p>Masih banyak lagi keutamaan-keutamaan yang memotivasi seseorang untuk memperbanyak bacaan Al Quran terutama di bulan membaca Al Quran.</p>
<p>Dan pada tulisan kali ini hanya menyebutkan sebagian kecil keutamaan dari membaca Al Quran bukan untuk menyebutkan seluruh keutamaannya.</p>
<p>Dan ternyata generasi yang diridhai Allah itu, adalah mereka orang-orang yang giat dan semangat membaca Al Quran bahkan mereka mempunyai jadwal tersendiri untuk baca Al Quran.</p>
<p>عَنْ أَبِى مُوسَى رضى الله عنه قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِنِّى لأَعْرِفُ أَصْوَاتَ رُفْقَةِ الأَشْعَرِيِّينَ بِالْقُرْآنِ حِينَ يَدْخُلُونَ بِاللَّيْلِ وَأَعْرِفُ مَنَازِلَهُمْ مِنْ أَصْوَاتِهِمْ بِالْقُرْآنِ بِاللَّيْلِ وَإِنْ كُنْتُ لَمْ أَرَ مَنَازِلَهُمْ حِينَ نَزَلُوا بِالنَّهَارِ&#8230;».<br />
Artinya: “Abu Musa Al Asy’ary radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallambersabda: “Sesungguhnya aku benar-benar mengetahui suara kelompok orang-orang keturunan Asy’ary dengan bacaan Al Quran, jika mereka memasuki waktu malam dan aku mengenal rumah-rumah mereka dari suara-suara mereka membaca Al Quran pada waktu malam, meskipun sebenarnya aku belum melihat rumah-rumah mereka ketika mereka berdiam (disana) pada siang hari…”. HR. Muslim.<br />
MasyaAllah, coba kita bandingkan dengan diri kita apakah yang kita pegang ketika malam hari, sebagian ada yang memegang remote televise menonton program-program yang terkadang bukan hanya tidak bermanfaat tetapi mengandung dosa dan maksiat, apalagi di dalam bulan Ramadhan.<br />
Dan jikalau riwayat di bawah ini shahih tentunya juga akan menjadi dalil penguat, bahwa kebiasan generasi yang diridhai Allah yaitu para shahabat radhiyallahu ‘anhum ketika malam hari senantiasa mereka membaca Al Quran. Tetapi riwayat di bawah ini sebagian ulama hadits ada yag melemahkannya. </p>
<p>عَنْ أَبِى صَالِحٍ رحمه الله قَالَ قَالَ كَعْبٌ رضى الله عنه: نَجِدُ مَكْتُوباً : مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لاَ فَظٌّ وَلاَ غَلِيظٌ ، وَلاَ صَخَّابٌ بِالأَسْوَاقِ ، وَلاَ يَجْزِى بِالسَّيِّئَةِ السَّيِّئَةَ ، وَلَكِنْ يَعْفُو وَيَغْفِرُ ، وَأُمَّتُهُ الْحَمَّادُونَ ، يُكَبِّرُونَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى كُلِّ نَجْدٍ ، وَيَحْمَدُونَهُ فِى كُلِّ مَنْزِلَةٍ ، يَتَأَزَّرُونَ عَلَى أَنْصَافِهِمْ ، وَيَتَوَضَّئُونَ عَلَى أَطْرَافِهِمْ ، مُنَادِيهِمْ يُنَادِى فِى جَوِّ السَّمَاءِ ، صَفُّهُمْ فِى الْقِتَالِ وَصَفُّهُمْ فِى الصَّلاَةِ سَوَاءٌ ، لَهُمْ بِاللَّيْلِ دَوِىٌّ كَدَوِىِّ النَّحْلِ ، مَوْلِدُهُ بِمَكَّةَ ، وَمُهَاجِرُهُ بِطَيْبَةَ ، وَمُلْكُهُ بِالشَّامِ.<br />
Artinya: “Abu Shalih berkata: “Ka’ab radhiyallahu ‘anhu berkata: “Kami dapati tertulis (di dalam kitab suci lain): “Muhammad adalah Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam, tidak kasar, tidak pemarah, tidak berteriak di pasar, tidak membalas keburukan dengan keburukan akan tetapi memaafkan dan mengampuni, dan umat (para shahabat)nya adalah orang-orang yang selalu memuji Allah, membesarkan Allah Azza wa Jalla atas setiap perkara, memuji-Nya pada setiap kedudukan, batas pakaian mereka pada setengah betis mereka, berwudhu sampai ujung-ujung anggota tubuh mereka, yang mengumandangkan adzan mengumandangkan di tempat atas, shaf mereka di dalam pertempuran dan di dalam shalat sama (ratanya), mereka memiliki suara dengungan seperti dengungannya lebah pada waktu malam, tempat kelahiran beliau adalah Mekkah, tempat hijranya adalah Thayyibah (Madinah) dan kerajaannya di Syam.</p>
<p>Maksud dari “mereka memiliki suara dengungan seperti dengungannya lebah pada waktu malam”adalah:<br />
أي صوت خفي بالتسبيح والتهليل وقراءة القرآن كدوي النحل<br />
Artinya: “Suara yang lirih berupa ucapan tasbih (Subahnallah), tahlil (Laa Ilaaha Illallah), dan bacaan Al Quran seperti dengungannya lebah”. Lihat kitab Mirqat Al Mafatih Syarh Misykat Al Mashabih.</p>
<p>Salah Satu Ibadah paling agung adalah membaca Al Quran.</p>
<p>عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رضى الله عنهما : ضَمِنَ اللَّهُ لِمَنَ اتَّبَعَ الْقُرْآنَ أَنْ لاَ يَضِلَّ فِي الدُّنْيَا ، وَلاَ يَشْقَى فِي الآخِرَةِ ، ثُمَّ تَلاَ فَمَنَ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلاَ يَضِلُّ وَلاَ يَشْقَى.</p>
<p>Artinya: “Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata: “Allah telah menjamin bagi siapa yang mengikuti Al Quran, tidak akan sesat di dunia dan tidak akan merugi di akhirat”, kemudian beliau membaca ayat:<br />
{فَمَنَ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلاَ يَضِلُّ وَلاَ يَشْقَى}<br />
Artinya: “Lalu barang siapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka”. QS. Thaha: 123. Atsar shahih diriwayatkan di dalam kitab Mushannaf Ibnu Abi Syaibah.</p>
<p>عَنْ خَبَّابِ بْنِ الْأَرَتِّ رضى الله عنه أَنَّهُ قَالَ: &#8221; تَقَرَّبْ مَا اسْتَطَعْتَ، وَاعْلَمْ أَنَّكَ لَنْ تَتَقَرَّبَ إِلَى اللهِ بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ كَلَامِهِ &#8220;.</p>
<p>Artinya: “Khabbab bin Al Arat radhiyallahu ‘anhu berkata: “Beribadah kepada Allah semampumu dan ketahuilah bahwa sesungguhnya kamu tidak akan pernah beribadah kepada Allah dengan sesuatu yang lebih dicintai-Nya dibandingkan (membaca) firman-Nya”. Atsar shahih diriwayatkan di dalam kitab Syu’ab Al Iman, karya Al Baihaqi.</p>
<p>عَنْ عَبْدِ اللهِ بن مسعود رضى الله عنه ، أنه قَالَ: &#8221; مَنْ أَحَبَّ أَنْ يَعْلَمَ أَنَّهُ يُحِبُّ اللهَ وَرَسُولَهُ فَلْيَنْظُرْ، فَإِنْ كَانَ يُحِبُّ الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يُحِبُّ اللهَ وَرَسُولَهُ &#8220;.</p>
<p>Artinya: “Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Siapa yang ingin mengetahui bahwa dia mencintai Allah dan Rasul-Nya, maka perhatikanlah jika dia mencintai Al Quran maka sesungguhnya dia mencintai Allah dan rasul-Nya”. Atsar shahih diriwayatkan di dalam kitab Syu’ab Al Iman, karya Al Baihaqi.<br />
وقال وهيب رحمه الله: &#8220;نظرنا في هذه الأحاديث والمواعظ فلم نجد شيئًا أرق للقلوب ولا أشد استجلابًا للحزن من قراءة القرآن وتفهمه وتدبره&#8221;.<br />
Artinya: “Berkata Wuhaib rahimahullah: “Kami telah memperhatikan di dalam hadits-hadits dan nasehat ini, maka kami tidak mendapati ada sesuatu yang paling melembutkan hati dan mendatangkan kesedihan dibandingkan bacaan Al Quran, memahami dan mentadabburinya”.</p>
<p>Ditulis oleh Ahmad Zainuddin, KMI 697<br />
Rabu, 10 Ramadhan 1432H Dammam KSA.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://annabawi.com/2011/08/12/semangat-memperbanyak-bacaan-al-qur%e2%80%99an/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ramadhan Bulan Memperbanyak Bacaan Al Quran</title>
		<link>http://annabawi.com/2011/08/12/ramadhan-bulan-memperbanyak-bacaan-al-quran/</link>
		<comments>http://annabawi.com/2011/08/12/ramadhan-bulan-memperbanyak-bacaan-al-quran/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Aug 2011 04:10:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nirwan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Al Qur'an]]></category>
		<category><![CDATA[Info An-Nabawi]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian An-Nabawi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://annabawi.com/?p=318</guid>
		<description><![CDATA[وقال الربيع بن سليمان رحمه الله  : كان الشافعي رحمه الله يختم القرآن في رمضان ستين ختمة .
Artinya: “Ar Rabi’ bin Sulaiman rahimahullah berkata: “Asy Syafi’ie rahimahullah mengkhatamakan Al Quran di bulan Ramadhan 60 kali”.
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p> بسم الله الرحمن الرحيم, الحمد لله رب العالمين و صلى الله و سلم و بارك على نبينا محمد و آله و صحبه أجمعين, أما بعد:</p>
<p>Allah Ta’ala berfirman:</p>
<p>{شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ } [البقرة: 185]</p>
<p>Artinya: “Bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur&#8217;an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil)”. QS. Al Baqarah: 185.</p>
<p>Dan tidak ada keraguan bahwa Allah Ta’ala telah menurunkan Al Quran pada Lailatul Qadar</p>
<p>{إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ } [القدر: 1]</p>
<p>Artinya: “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur&#8217;an) pada malam kemuliaan”. QS. Al Qadar: 1.</p>
<p>Dan malam ini adalah malam yang penuh berkah, Allah Ta’ala berfirman:</p>
<p>{ إِنَّا أَنزلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ }</p>
<p>Artinya: “Sesungguhnya Kami telah menurunnya (Al Quran) pada malam yang penuh berkah”. QS. Ad Dukhan: 3.</p>
<p>Dan tanpa keraguan malam Qadar yang penuh berkah ini terdapat di Bulan Ramadhan.</p>
<p>عَنْ عَائِشَةَ &#8211; رضى الله عنها &#8211; أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ &#8211; صلى الله عليه وسلم &#8211; قَالَ « تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ » .</p>
<p> Artinya: “Aisyah radhiyallahu ‘anha meriwayatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Carilah lailatul qadar di sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan”. HR. Bukhari dan Muslim.</p>
<p>Bahkan di dalam Ramadhan diturunkan seluruh kitab suci:</p>
<p>عَنْ وَاثِلَةَ بْنِ الأَسْقَعِ رضى الله عنه، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ( ( أُنزِلتْ صُحُفُ إبراهيمَ أوَّلَ لَيْلَةٍ مِنْ شَهْرِ رَمَضانَ وأُنْزِلَتِ التَّوْراة لِسِتَ مَضَتْ مِنْ رَمَضانِ وأُنْزِلَ الإِنْجِيلُ لِثلاثَ عَشرَةَ مَضَتْ مِنْ رَمَضانَ وأُنْزلَ الزَّبورُ لِثَمانِ عَشْرَةَ خَلَتْ مِنْ رَمَضانَ وأُنْزلَ القُرْآنُ لأَرْبَعٍ وعِشْرِينَ خَلَتْ مِنْ رَمَضانَ .</p>
<p>Artinya: “Watsilah bin Al Asqa’ radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Lembaran-lembaran Nabi Ibrahim diturunkan pada malam pertama dari Ramadhan, Taurat diturunkan enam hari lewat dari Ramadhan, Injil diturunkan pada tiga belas hari lewat dari bulan Ramadhan, Zabur diturunkan pada 18 hari lewat dari bulan Ramadhan dan Al Quran diturunkan pada 24 hari lewat dari bulan Ramadhan”. HR. Ath Thabrani dan dihasankan di dalam kitab Silsilat Al Ahadits Ash Shahihah, no. 1575.</p>
<p>Oleh sebab inilah, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan para shahabatnya radhiyallahu ‘anhum dan diikuti oleh para tabi’ie serta ulama-ulama setelah mereka rahimahumullah, senantiasa memperbanyak kwantitas bacaan Al Quran mereka.<br />
عنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رضى الله عنهما قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ &#8211; صلى الله عليه وسلم &#8211; أَجْوَدَ النَّاسِ ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِى رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ ، وَكَانَ يَلْقَاهُ فِى كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ ، فَلَرَسُولُ اللَّهِ &#8211; صلى الله عليه وسلم &#8211; أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ .</p>
<p> Artinya: “Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah manusia yang paling dermawan dan senantiasa lebih dermawan ketika berada di dalam bulan Ramadhan ketika ditemui oleh Jibril, dan Jibril senantiasa menemui beliau di setiap malam dari Bulan Ramadhan, mempelajari bersama beliau Al Quran, maka sungguh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lebih dermawan dengan kebaikan dari angin yang mengalir”. HR. Bukhari dan Muslim.</p>
<p>Ibnu Al Atsir berkata: “Maksudnya adalah Jibril mengajarkan seluruh apa yang telah diturunkan dari Al Quran”. Lihat Al Jami’ fi Gharib Al Hadits.</p>
<p>Adz Dzahabi rahimahullah berkata di dalam kitab Siyar A’lam An Nubala’:<br />
عن إبراهيم النخعي رحمه الله قال : كان الأسود  رحمه الله يختم القرآن في رمضان في كل ليلتين<br />
Artinya: “Ibrahim An Nakha’i berkata: “Senantiasa Al Aswad mengkhatamkan Al Quran di bulan Ramadhan pada setiap dua malam”.</p>
<p>وكان قتادة رحمه الله  يختم القرآن في سبع ، فإذا جاء رمضان ختم في كل ثلاث ، فإذا جاء العشر ختم في كل ليلة .<br />
Artinya: “Qatadah rahimahullah mengkhatamkan Al Quran di setiap tujuh hari, jika datang bulan ramadhan beliau mengkhatamkan di setiap tiga hari dan jika pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan  beliau mengkhatamkannya di setiap malam”.</p>
<p>وقال الربيع بن سليمان رحمه الله  : كان الشافعي رحمه الله يختم القرآن في رمضان ستين ختمة .<br />
Artinya: “Ar Rabi’ bin Sulaiman rahimahullah berkata: “Asy Syafi’ie rahimahullah mengkhatamakan Al Quran di bulan Ramadhan 60 kali”.</p>
<p> وقال القاسم ابن الحافظ ابن عساكر رحمه الله : كان أبي رحمه الله مواظباً على صلاة الجماعة وتلاوة القرآن ، يختم كل جمعة ، ويختم في رمضان كل يوم</p>
<p>Artinya: “Al Qasim bin Al Hafizh bin ‘Asakir rahimahullah berkata: “Bapakku (Ibnu ‘Asakir) rahimahullah selalu menjaga shalat berjama’ah dan membaca Al Quran, beliau mengkhatamkan setiap hari Jum’at dan mengkhatamkan di dalam bulan Ramadhan setiap hari”.</p>
<p>Dan disebutkan di dalam kitab At Tibyan Fi Adab Hamalat Al Quran, karya An Nawawi:</p>
<p>وعن مجاهد رحمه الله أنه كان يختم القرآن في رمضان في كل ليلة .<br />
Artinya: “Bahwa Mujahid rahimahullah senantiasa mengkhatamkan Al Quran di bulan Ramadhan pada setiap malam”. Dan An Nawawi berkata: “Sanadnya shahih”.</p>
<p>Dan disebutkan di dalam kitab Tahdzib Al Kamal:<br />
وعن مجاهد رحمه الله قال : كان علي الأزدي رحمه الله يختم القرآن في رمضان كل ليلة .<br />
Artinya: “Mujahid rahimahullah berkata: “Al Azdi rahimahullah senantiasa mengkhatamkan Al Quran di dalam bulan Ramadhan pada setiap malam”.</p>
<p> يقول الإمام الزهري رحمه الله: &#8220;إذا دخَل رمضان إنّما هو شهر تلاوةِ القرآن وإطعامِ الطعام&#8221;.<br />
Artinya: “Az Zuhry rahimahullah berkata: “Jika seseorang masuk ke dalam Ramadhan, maka sesungguhnya dia adalah bulan membaca Al Quran dan memberi makan kepada fakir miskin”.  Lihat kitab At Tamhid karya Ibnu Abdil Barr.</p>
<p>Berkata An Nawawi mengomentari tentang berapa semestinya mengkhatamkan Al Quran:<br />
&#8221; والاختيار أن ذلك يختلف باختلاف الأشخاص ، فمن كان يظهر له بدقيق الفكر ، لطائف ومعارف ، فليقتصر على قدر يحصل له كمال فهم ما يقرؤه ، وكذا من كان مشغولا بنشر العلم ، أو غيره من مهمات الدين ، ومصالح المسلمين العامة ، فليقتصر على قدر لا يحصل بسببه إخلال بما هو مرصد له . وإن لم يكن من هؤلاء المذكورين فليستكثر ما أمكنه من غير خروج إلى حد الملل والهذرمة &#8221; انتهى .<br />
Artinya: “Yang menjadi pendapat pilihan adalah bahwa hal tersebut berbeda-beda pada setiap orangnya, siapa yang terlihat padanya ketelitian berfikir, renungan, penemuan, maka hendaknya dia mencukupkan bacaan sebanyak tercapai baginya kesempurnaan pemahaman apa yang dia baca, demikian pula yang sibuk dengan penyebaran ilmu atau hal lain dari kepentingan-kepentingan agama dan kaum muslim secara umum, maka hendaknya dia mencukupkan bacaan sebanyak yang tidak terjadi dengan sebabnya keterbengkalaian dengan apa yang menjadi tugas utamanya, adapun jika bukan dari mereka yang disebutkan, maka hendaklah dia memperbanyak bacaan sesuai dengan kesanggupannya, tanpa keluar kepada batas kebosanan dan terlalu cepat dalam membaca Al Quran”. Lihat kitab At Tibyan fi Adab Hamalat Al Quran, karya An Nawawi.</p>
<p>Tulisan ini semoga menjadi penyemangat kembali untuk memperbanyak Al Quran di dalam bulan yang diperintahkan untuk memperbanyak Al Quran.</p>
<p>Ditulis oleh Ahmad Zainuddin<br />
Rabu, 10 Ramadhan 1432 Dammam KSA</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://annabawi.com/2011/08/12/ramadhan-bulan-memperbanyak-bacaan-al-quran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>RAMADHAN DAN PEMBINAAN MASYARAKAT MADANI</title>
		<link>http://annabawi.com/2011/08/08/ramadhan-dan-pembinaan-masyarakat-madani/</link>
		<comments>http://annabawi.com/2011/08/08/ramadhan-dan-pembinaan-masyarakat-madani/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Aug 2011 10:11:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nirwan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Al Qur'an]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Info An-Nabawi]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian An-Nabawi]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://annabawi.com/?p=314</guid>
		<description><![CDATA[Berarti, puasa yang Allah swt syariatkan bertujuan juga untuk membentuk budaya anti kezhaliman di tengah-tengah masyarakat, membentuk karakter wara', kehati-hatian terhadap sesuatu yang belum jelas kepemilikannya (apa lagi yag sudah jelas). Wara' adalah bagian dari taqwa yang dituju dalam mengamalkan syariat puasa Ramadhan.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ini adalah resume materi Kajian Ahad Subuh di Masjid An-Nabawi hari Ahad 7 gustus 2011/ 7 Ramadhan 142 H:</p>
<p>- Allah swt telah menurunkan aturan tentang puasa di dalam surat al-Baqarah 183-188.<br />
- Surat al-Baqarah yang di dalamnya ada aturan tentang puasa Ramadhan, masuk kategori surat Madaniyyah (yang diturunkan setelah hijrah).<br />
- Syekh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri mengatakan bahwa periode Madinah sebagai periode Pembinaan Masyarakat Madani (masyarakat yang berbudaya tinggi, khususnya dalam aspek akhlaq).<br />
- Para ulama&#8217; qurra&#8217; (ahli bacaan al-Qur&#8217;an) dan ahli Ilmu al-Qur&#8217;an menentukan bahwa maqra&#8217; (tempat bacaan) ayat puasa adalah ayat-ayat 183 sampai 188 di surat al-Baqarah.<br />
- Yang menarik, ayat 188 surat al-Baqarah tersebut tidak berbicara tentang hukum puasa melainkan tentang larangan memakan atau mengambil harta orang lain dengan cara yang bathil:<br />
<em>&#8220;Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui.</em><br />
- Berarti, puasa yang Allah swt syariatkan bertujuan juga untuk membentuk budaya anti kezhaliman di tengah-tengah masyarakat, membentuk karakter wara&#8217;, kehati-hatian terhadap sesuatu yang belum jelas kepemilikannya (apa lagi yag sudah jelas). Wara&#8217; adalah bagian dari taqwa yang dituju dalam mengamalkan syariat puasa Ramadhan.<br />
- Dengan demikian dapat dipastikan bahwa orang yang sukses meraih ketaqwaan setelah Ramadhan adalah orang yang anti dan bersih dari tindakan korupsi, skala besar atau kecil, pencurian, perampokan, penindasan dan sejenisnya.<br />
- Semoga kita semuadapat meraih sukses Ramadhan tahun ini. Amin.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://annabawi.com/2011/08/08/ramadhan-dan-pembinaan-masyarakat-madani/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Di Atas Ranjang Kematian</title>
		<link>http://annabawi.com/2011/08/03/di-atas-ranjang-kematian/</link>
		<comments>http://annabawi.com/2011/08/03/di-atas-ranjang-kematian/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Aug 2011 02:06:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nirwan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Info An-Nabawi]]></category>
		<category><![CDATA[Tadzkirah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://annabawi.com/?p=312</guid>
		<description><![CDATA[Saudaraku, berikut ini kisah para Nabi dan sahabat yang mulia saat menyambut kematiannya. Kisah-kisah mereka penuh teladan, sarat pesan dan menjadi bahan renungan.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kisah para tauladan menyambut kematiannya.</p>
<p>Saudaraku, berikut ini kisah para Nabi dan sahabat yang mulia saat menyambut kematiannya. Kisah-kisah mereka penuh teladan, sarat pesan dan menjadi bahan renungan.</p>
<p>Kekasih Allah Ibrahim Allaihi Salam<br />
Bercerita Imam Muhasabi dalam kitab “Ar-Riayah” bahwa Allah berfirman kepada Nabi Ibrahim, allaihi salam:  ”Wahai kekasihku, bagaimana engkau menemukan kematianmu?” Dia berkata: Seperti tusuk besi (yang dipakai untuk membakar daging) yang diletakan di atas bulu yang basah, kemudian ditarik.” Kemudian Allah berfirman, “Sungguh (yang demikian itu) telah kami mudahkan kematian bagimu, Wahai Ibrahim.”</p>
<p>Nabi Allah Daud, Allaihi Salam<br />
Diriwayatkan bahwa malaikat maut datang untuk menjemput Nabi Daud alaihi salam.  Daud berkata: “Siapakah engkau?” Dia menjawab, “kami yang tidak takut raja dan tidak mengabaikan orang-orang kecil, kami juga tidak menerima suap”. Daud berkata: “Jika demikian, anda adalah malaikat kematian?” Dia menjawab: “Ya”, Daud balik berkata: “Kok, mendadak begini, aku tidak mendapatkan pemberitahuan (terlebih dahulu)” Malaikat berkata: “Hai Daud, di mana sahabat-mu fulan? Di mana pula si fulanah, tetanggamu?” “Mereka sudah mati”, jawab Daud. “Bukankah itu pemberitahuan padamu untuk bersiap-siap.”</p>
<p>Nabi yang diajak bicara oleh Allah, Musa allaihi salam<br />
Dikisahkan bahwa Nabi Musa allaihi salam ketika jiwanya berangkat menuju Allah, Allah berfirman: “Hai Musa, Bagaimana kau menemukan kematian?” Dia menjawab, “Aku mendapati diriku seperti burung hidup yang digoreng di atas penggorengan, tidak mati sehingga aku istirahat, dan tidak bertahan hidup sehingga aku terbang”. Diriwayatkan bahwa Musa berkata: “Aku menemukan diriku sebagai seekor kambing dikuliti oleh tukang daging dalam keadaan hidup”.<br />
Ruh Allah, Isa allaihi salam.</p>
<p>Isa putra Maryam, allaihi salam, berkata, “Wahai kaum Hawariyin, berdoalah kepada Allah agar kalian dimudahkan pada saat syakrat (maut) ini” Diriwayatkan bahwa kematian lebih berat dari tebasan pedang, gorokan gergaji dan capitan gunting.</p>
<p>Rasulullah saw menggambarkan kematian kepada para sahabatnya.<br />
Diriwayatkan dari Syahr bin Husyab dia berkata, Rasulullah saw ditanya tentang beratnya kematian? Dia (saw) bersabda, “kematian yang paling ringan adalah seperti bulu wol yang tercerabut dari kulit domba. Apakah mungkin kulit dapat keluar kecuali bersama bulu-bulunya itu?”</p>
<p>Abu Bakar As-shidiq, radiallahu anhu.<br />
Ketika Abu Bakar radiallahu anhu menghadapi hari-hari kematiannya, dia sering membaca, “dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari daripadanya” (Qur’an Surah: Qaaf 19).<br />
Dia berpesan kepada Aisyah, puterinya: “Lihatlah kedua pakaianku ini, cucilah keduanya dan kafankan aku dengannya. Sesungguhnya mereka yang hidup lebih utama menggunakan baju baru daripada yang sudah jadi mayit.”<br />
Di detik-detik menjelang kematiannya, ia berpesan kepada Umar dengan berkata, “Aku berpesan padamu dengan satu wasiat, sebab tak mungkin engkau mendahuluiku. Sesungguhnya Allah Maha Benar dengan tidak pernah membuat malam mendahului siang, dan siang tak pernah mendahului malam. Sesungguhnya, tidak diterima ibadah-ibadah sunah, jika yang wajib tak ditunaikan. Dan, akan diberatkan timbangan (kebaikan) di akhirat bagi mereka yang menunaikan hak-hak di dunia. Dan akan diringankan timbangan (kebaikan) seseorang di akhirat jika diikuti dengan kebatilan.</p>
<p>Umar bin Khathab, radiallahu anhu.<br />
Ketika Umar bin Khattab ditusuk oleh seseorang, Abdullah bin Abbas datang menjenguknya, dia berkata: “Engkau telah masuk Islam saat orang-orang (lain) masih kafir. Dan engkau selalu berjihad bersama Rasulallah SAW saat orang-orang (lain) malas. Saat Rasulallah SAW wafat dia sudah ridha denganmu”. Umar kemudian berkata, “Ulangi ucapanmu!” Maka diulang kepadanya. Dia kemudian berkata, “celakalah orang yang tertipu dengan ucapan-ucapanmu itu.”<br />
Abdullah bin Umar, puteranya, berkata: waktu itu kepala ayahku di pangkuanku, saat sakit menjelang kematian. Ayah berkata, “letakan kepalaku di atas tanah!” Aku menjawab, “Bagaimana ayah, apakah tidak sebaiknya di atas pangkuanku saja.” “Celaka kamu, letakan di atas tanah.” Ayah setengah membentak. Kemudian, Abdullah bin Umar meletakannya di atas tanah. Umar berkata, “Celaka aku, celaka juga ibuku, jika Tuhanku tidak menyayangi aku.”</p>
<p>Utsman bin Affan, radiallahu anhu.<br />
Setelah ditusuk oleh orang-orang yang memberontak, hingga darah mengalir ke janggutnya, Ustman berkata, “Tidak ada Tuhan selain Engkau (ya Allah), Maha Suci Engkau sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim. Ya Allah, aku memohon perlindungan-Mu, dan pertolongan-Mu atas segala persoalanku, dan aku memohon pada-Mu diberikan kesabaran atas ujian ini.”<br />
Setelah ia akhirnya wafat, para sahabatnya membuka lemari yang terkunci. Mereka mendapatkan satu kertas yang tertulis begini: “Bismillahirrahman ar-rahim, Ustman bin Affan bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah, tak ada sekutu bagi-Nya. Dan bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya. Dan bahwa syurga adalah benar (adanya). Dan bahwa Allah kelak akan membangkitkan setiap yang dikubur pada hari yang tidak ada lagi keraguan padanya (kiamat). Sesungguhnya Allah tidak pernah mengingkari janji-Nya. Atas nama-Nya kita hidup, atas nama-Nya kita mati dan atas nama-Nya pula kita akan dibangkitan, insya-Allah.”</p>
<p>Ali bin Abi Thalib, radiallahu anhu.<br />
Setelah ditusuk, Ali radiallahu anhu berkata: Apa yang sudah dilakukan terhadap orang yang menusukku? Mereka menjawab, “kami telah menangkapnya”. Ali berkata, “Beri makan dan minum dia dengan makanan dan minumanku. Jika aku hidup, aku ingin melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Jika aku mati, maka pukulah dia sekali pukul saja, jangan kalian tambahkan sedikitpun.”<br />
Kemudian Ali berpesan kepada Hasan, puteranya, agar memandikannya. Ali berkata, “Jangan berlebih-lebihan dalam mengkafaniku, sesungguhnya aku mendengar Rasulallah SAW bersabda, janganlah bermewah-mewahan dalam berkafan sebab yang demikian itu menghimpit dengan keras.”<br />
Kemudian Ali berpesan lagi: “Bawalah aku di antara rakyat. Jangan terlalu cepat, juga terlalu lambat. Jika aku memiliki kebaikan, niscaya (dengan membawa aku ke hadapan mereka) kalian telah mensegarakan aku menuju kebaikan itu. Jika aku memiliki keburukan, kalian telah mengantarkan aku untuk bertemu dengannya sebelum aku dihisab.”</p>
<p>Amr bin Ash, radiallau anhu.<br />
Pada tahun 43 hijriyah, Amr bin Ash menemui kematiannya saat ia menjadi gubernur di negeri Mesir. Pada hari-hari terakhir menjelang kematiannya, ia berkata, “Aku dulu seorang kafir yang paling keras…. Aku juga orang terkeras pada Rasulallah SAW. Sekiranya aku mati ketika itu, aku pasti masuk neraka. Kemudian, aku berbaiat kepada Rasulallah SAW. Tak ada manusia yang paling aku cintai melebihi beliau SAW. Tak ada yang … Sekiranya aku diminta untuk membuat naat (pada saat kematiannya), niscaya aku tak mampu. Sebab, aku tak pernah bisa berhenti menyeka airmataku sebagai kekagumanku padanya. Sekiranya pada saat itu aku mati, aku mesti masuk syurga…. Kemudian aku diuji setelahnya dengan kekuasaan… dan dengan hal-hal yang aku tidak tahu, apakah akan menolongku atau membebani aku” Kemudian, Amr bin Ash mendongakan kepalanya ke langit, dan berkata,<br />
“Ya Allah… tak ada lagi (alasan) pembebas….. Sehingga aku dapat meminta maaf. Tak ada lagi kekuasaan sehinga aku minta tolong. Sekiranya Engkau tidak merahmati aku, nicaya aku termasuk orang-orang yang celaka!!” Begitulah selalu ia memohon ampun kepada Tuhannya, hingga ajal menjemputnya dan ia mengucapkan, “La Ilaha Illa Allah…”<br />
Diriwayatkan bahwa sebulan sebelum kematiannya, anaknya berkata padanya, “wahai ayah… engkau pernah berucap kepada kami…. semoga kami dapat bertemu sesorang yang cerdas yang dapat menceritakan suasana saat kematian. Engkaulah orang itu, ceritakan pada kami bagaimana kematian? Maka, Amr bin Ash berkata, “Wahai anakku, seakan-akan di punggungku ada lemari yang menindih, dan seakan akan bernafas dari lubah jarum ..</p>
<p>Huzaifah bin Yaman, radiallahu anhu.<br />
Pada suatu hari di tahun ke tiga puluh enam hijriyah…. Huzaifah dipanggil menghadap-Nya. Saat ia berusaha untuk bersiap-siap menuju perjalanan ke negeri akhirat, masuk sejumlah sahabat ke kamarnya… Ia bertanya pada mereka. “Apakah kalian datang membawa kain kafan?” Mereka menjawab, “Ya” Dia berkata, “Tunjukan padaku!” Setelah melihatnya, ia mendapati kain kafan itu masih baru…. Dengan susah payah ia berucap, “Kain kafan apa ini? Sungguh aku hanya butuh dua helai kain putih yang tak terjahit…Sesungguhnya aku tidak menggunakannya di kuburan kecuali hanya sebentar hingga aku mengganti keduanya dengan yang lebih baik… atau yang lebih buruk.<br />
Selanjutnya, dia mengucapkan kalimat yang tak jelas.. Para sahabatnya berusaha mendengarkan… ia berucap: “Selamat datang kematian. Kekasih yang datang dengan membawa rindu. Tak akan beruntung mereka yang menyesal (di hari ini).<br />
Ruhnya kemudian terbang menuju Allah. Itulah salah satu hamba yang paling bertakwa….</p>
<p>Muadz bin Jabal, radiallahu anhu.<br />
Sampailah Muadz bin Jabal ke ajalnya. Ia dipanggil untuk bertemu Allah…. Pada saat sakratul maut, setiap perasaan yang sesungguhnya akan mencuat, dan terucap di lidah seseorang, sekiranya ia masih dapat bicara. Ucapan yang dapat dikatakan sebagai kesimpulan dari perjalanan hidup seseorang. Pada saat-saat seperti itu, Muadz mengucapkan kalimat yang sangat menakjubkan yang mengungkap cita-cita seorang mu’min. Ia menghadap ke langit, seakan berdialog dengan Tuhannya. “Ya…. Allah, aku dulu sangat takut pada-Mu. Tetapi hari ini aku ingin bertemu dengan-Mu. Ya… Allah, sesungguhnya Engkau Maha Tahu bahwa aku tidak mendahulukan dunia untuk akheratku.”</p>
<p>Sa’ad bin Abi Waqash, radiallahu anhu<br />
Pada suatu hari di tahun lima puluh empat hijriyah, Sa’ad bin Abi Waqash telah berusia di atas delapan puluh tahun. Setiap hari ia berharap segera menemui kematiannya. Salah satu anaknya menceritakan, “Suatu hari kepala bapakku aku letakan di pangkuanku, dia bernafas setengah-setengah. Aku menangis. Dia berkata, Apa yang membuatmu menangis, wahai puteraku? Seungguhnya Allah tidak akan mengazabku selama-lamanya. Aku yakin aku adalah penduduk surga.<br />
Suatu kali, Rasulallah SAW telah memberinya kabar baik, dan dia beriman dengan kabar itu yaitu bahwa ia tidak akan diazab karena ia termasuk ahli surga. Nampaknya, ia ingin bertemu dengan Allah dengan mengumpulkan semua bekal yang ia punya. Ia kemudian menunjuk ke arah lemari. Kemudian lemari itu dibuka. Di dalamnya terdapat kain yang sudah sangat lusuh dan robek sana-sini. Ia meminta keluarganya untuk mengkafankannya dengan kain itu, seraya berkata, “Aku berjuang melawan orang-orang Musyrik pada perang Badr (dengan pakain ini), dan aku menyimpannya untuk hari ini!”</p>
<p>Bilal bin Rabah, Sang Muadzin Nabi<br />
Ketika Bilal didatangi kematian… Istrinya berkata, “sungguh kami akan sangat bersedih.” Bilal membuka kain yang menutupi wajahnya, saat itu ia dalam sakratul mautnya. Dia kemudian berkata, “Jangan kau katakan demikian. Katakanlah, sungguh kami akan sangat bahagia” Kemudian dia berkata lagi, “Besok aku akan bertemu pujaanku, Muhammad SAW dan para sahabatnya.”</p>
<p>Abu Dzar al-Ghifari, radiallahu anhu.<br />
Ketika Abu Dzar al-Ghifari mendekati kematiannya, istrinya menangis. Abu Dzar bertanya, “Apa yang membuatmu menangis?” Ia menjawab, “Bagaimana aku tidak menangis, sementara engkau mati di negeri yang tandus begini, sementara kita tidak punya kain untuk mengkafanimu”.<br />
Dia kemudian berkata, “Tak usah bersedih. Aku beri kabar gembira untukmu. Suatu hari aku mendengar Rasulallah Saw bersabda, aku dan para sahabat lainnya ada di situ, “Di antara kalian akan ada yang mati di tempat yang tandus dan disaksikan oleh sejumlah orang-orang beriman”. Tak ada seorangpun dari para sahabat itu yang mati di padang tandus begini. Mereka meninggal di perkampungan dan di tengah-tengah masyarakat. Akulah yang akan mati di tempat tandus ini. Demi Allah, aku tidak berdusta.. tunjuki aku jalan..” Istrinya berkata, “Rombongan haji sudah berangkat, dan aku tak tahu lagi harus ke jalan mana”.<br />
Di padang yang tandus itu, tiba-tiba ada serombongan kafilah lain yang lewat. Demi mendengar suara tangisan dari balik gubuk yang kecil, mereka berhenti dan bertanya-tanya, ada apa? Seseorang di antara mereka mengenali, subhanallah, ini Abu Dzar, sahabat Nabi yang mulia. Mereka menghentikan perjalanannya dan mengurus seluruh prosesi pemakaman Abu Dzar.</p>
<p>Abu Darda, radiallahu anhu.<br />
Ketika Abu Darda menemui kematiannya, ia berkata:<br />
Sudahkah setiap orang mempersiapkan diri untuk seperti aku saat ini? Sudahkah setiap orang mempersiapkan diri untuk seperti aku hari ini?Sudahkah setiap orang mempersiapkan diri seperti aku detik ini?<br />
Kemudian Allah mencabut ruhnya.</p>
<p>Salman Al-Farisi, radiallahu anhu.<br />
Salman al-Farisi menangis saat hendak menemui kematiannya. Ia kemudian ditanya oleh kelaurganya: “Apa yang membuatmu menangis?” Ia berkata, “Rasulallah saw telah memprediksi bahwa perbekalan kita (untuk mati) seperti perbekalan orang berkendara. Sementara di sekelilingku hanya ini perbekalanku.<br />
Ada yang berkata, “Waktu itu di sisi Salman al-Farisi ada ijanah, jafnah dan muthaharah. Ijanah adalah becana (bak) tempat dimana air dikumpulkan. Jafnah: tempat mengumpulan makanan dan air. Al-Muthaharah adalah becana (bak) tempat orang mengambil air yang suci.<br />
Anas bin Sirrin berkata, “Anas bin Malik hadir saat Salman al-farisi menemui kematiannya. Ia berkata, “Talqinkan aku dengan La Ilah Illa Allah, mereka tetap mengucapkan itu hingga ajal menjemputnya.”</p>
<p>Abdullah bin Mas’ud:<br />
Ketika Abdullah bin Mas’ud menemui kematiannya, ia memanggil puteranya: “Ya Abdurrahman bin Abdullah bin Mas’ud, aku ingin berpesan padamu tentang lima hal. Jagalah demi menjalankan pesanku ini. Pertama: Hilangkanlah rasa putus asa dari hadapan orang banyak, sebab demikianlah kaya yang sesungguhnya.<br />
Kedua: Tinggalkan mengemis (untuk kebutuhan hidupmu) dari orang lain, sebab yang demikian itu adalah kemiskinan yang kau datangkan sendiri. Ketiga: Tinggalkan hal-hal yang kau anggap tak berguna. Jangan sekali-kali sengaja kau mendekatinya. Keempat: Jika kau mampu, janganlah sampai terjadi padamu satu hari di mana hari itu lebih tidak lebih baik dari kemarin. Usahakanlah. Kelima: Jika engkau shalat, lakukanlah dengan sungguh-sungguh. Resapi dan renungkan seakan engkau tak akan shalat lagi setelah itu.</p>
<p>Sumber: dakwatuna.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://annabawi.com/2011/08/03/di-atas-ranjang-kematian/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nasehat Abdullah bin Mas&#8217;ud radhiyallahu &#8216;anhu</title>
		<link>http://annabawi.com/2011/08/02/nasehat-abdullah-bin-masud-radhiyallahu-anhu/</link>
		<comments>http://annabawi.com/2011/08/02/nasehat-abdullah-bin-masud-radhiyallahu-anhu/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Aug 2011 03:55:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nirwan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Info An-Nabawi]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian An-Nabawi]]></category>
		<category><![CDATA[Kegiatan rutin]]></category>
		<category><![CDATA[Tadzkirah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://annabawi.com/?p=309</guid>
		<description><![CDATA[Barangsiapa yang bersuri tauladan maka hendaklah bersuri tauladan dengan orang yang sudah meninggal, karena sesungguhnya orang yang masih hidup tidak aman dari tertimpa fitnah atasnya...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>عن ابن مسعود &#8211; رضي الله عنه &#8211; قال : «مَن كانَ مُسْتَنًّا ، فَلْيَسْتَنَّ بمن قد ماتَ ، فإنَّ الحيَّ لا تُؤمَنُ عليه الفِتْنَةُ ، أولئك أصحابُ محمد &#8211; صلى الله عليه وسلم &#8211; ، كانوا أفضلَ هذه الأمة : أبرَّها قلوبًا ، وأعمقَها علمًا ، وأقلَّها تكلُّفًا ، اختارهم الله لصحبة نبيِّه ، ولإقامة دِينه ، فاعرِفوا لهم فضلَهم ، واتبعُوهم على أثرهم ، وتمسَّكوا بما استَطَعْتُم من أخلاقِهم وسيَرِهم ، فإنهم كانوا على الهُدَى المستقيم».</p>
<p>Artinya: Abdullah bin Mas&#8217;ud radhiyallahu &#8216;anhu berkata: &#8220;Barangsiapa yang bersuri tauladan maka hendaklah bersuri tauladan dengan orang yang sudah meninggal, karena sesungguhnya orang yang masih hidup tidak aman dari tertimpa fitnah atasnya, merekalah para shahabat Muhammad shallallahu &#8216;alaihi wasallam, mereka adalah orang-orang yang termulia dari umat ini, yang paling baik hatinya, paling dalam ilmunya dan paling sedikit untuk berbuat yang mengada-ngada, Allah telah memilih mereka untuk bershahabat dengan nabiNya, untuk menegakkan agamaNya, maka ketauhilah keutamaan mereka yang mereka mililki, ikutilah jalan-jalan mereka, dan berpegang teguhlah semampu kalian akan budipekertibudi pekerti mereka dan sepak terjang mereka, karena sesungguhnya mereka diatas petunjuk yang lurus&#8221;. diriwayatkan dengan sanadnya oleh Ibnu Abdil Barr di dalam Kitab Jami’ bayan Al &#8216;Ilmi wa Ahlih (2/97) dan disebutkan oleh Ibnu Atsir di dalam Jami&#8217; Al Ushul Fi Ahadits Ar Rasul (1/292).</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://annabawi.com/2011/08/02/nasehat-abdullah-bin-masud-radhiyallahu-anhu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>BEBERAPA HADITS LEMAH (DHA&#8217;IF) DAN PALSU TENTANG PUASA RAMADHAN</title>
		<link>http://annabawi.com/2011/08/01/beberapa-hadits-lemah-dhaif-dan-palsu-tentang-puasa-ramadhan/</link>
		<comments>http://annabawi.com/2011/08/01/beberapa-hadits-lemah-dhaif-dan-palsu-tentang-puasa-ramadhan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Aug 2011 04:41:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nirwan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Info An-Nabawi]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian An-Nabawi]]></category>
		<category><![CDATA[Kegiatan rutin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://annabawi.com/?p=305</guid>
		<description><![CDATA[وَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأَ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ
“Barangsiapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaklah ia mengambil tempat duduknya di neraka”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya(110), dan Muslim dalam Shohih-nya (3)]
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Berkata Atas Nama Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam<br />
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ تَسَمَّوْا بِاسْمِي وَلَا تَكْتَنُوا بِكُنْيَتِي وَمَنْ رَآنِي فِي الْمَنَامِ فَقَدْ رَآنِي فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لَا يَتَمَثَّلُ فِي صُورَتِي وَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ (رواه أحمد والبخاري والترمذي)</p>
<p>ISLAM DIEN YANG SEMPURNA<br />
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ  الْإِسْلَامَ دِينًا (المائدة 3)<br />
Pada hari ini telah Ku sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku ridhai Islam itu jadi agama bagimu…</p>
<p>LOGIKANYA<br />
Kalau ada yang menambah sesuatu dalam syariat:<br />
Syariat masih kurang sehingga perlu ada penambahan…<br />
Syariat sudah sempurna, namun ada hal-hal yang perlu ditambahkan utk kalangan yang belum kuat imannya…<br />
Suatu yang sudah lengkap tidak butuh tambahan…</p>
<p>PENTINGNYA SANAD<br />
Islam adalah agama yang ilmiah, mempunyai referensi yang kuat.<br />
Setiap amalan, keyakinan, atau ajaran yang disandarkan kepada Islam harus memiliki dasar dari al-Qur’an dan Hadits Nabi saw yang otentik.<br />
Dengan ini, Islam tidak memberi celah kepada orang-orang yang beritikad buruk untuk menyusupkan pemikiran-pemikiran atau ajaran lain ke dalam ajaran Islam.<br />
Abdullah bin Mubarak rahimahullah mengatakan:<br />
الإسناد من الدين، ولولا الإسناد لقال من شاء ما شاء<br />
“Sanad adalah bagian dari agama. Jika tidak ada sanad, maka orang akan berkata semaunya.” (Lihat dalam Muqaddimah Shahih Muslim, 1/12)<br />
Dengan adanya sanad, suatu perkataan tentang ajaran Islam dapat ditelusuri asal-muasalnya.</p>
<p>Bagaimana Hukum Meriwayatkan Hadits Dha’if ?<br />
Panduan umum dalam berbicara ‘atas nama’ Rasulullah saw:<br />
وَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأَ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ<br />
“Barangsiapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaklah ia mengambil tempat duduknya di neraka”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya(110), dan Muslim dalam Shohih-nya (3)]<br />
Maka hendaknya hadits di atas menjadi renungan awal bagi kita dalam menyampaikan hadits, untuk lebih berhati-hati dalam memilah dan milih hadits yang akan kita jadikan referensi dalam kultum Ramadhan ataupun ceramah secara umum.</p>
<p>MENGAMALKAN HADITS DHA’IF<br />
Pertama: Haram secara mutlak penggunaan hadits dhaif sebagai hujjah dalam tema dan masalah apapun.  Para ulama yang mengambil pendapat ini adalah sebagian besar ulama hadits, diantaranya: Imam Ibnu Hazm, Imam al-Bukhori, Imam Muslim , al-Hafizh Yahya bin Ma’in, al-Hafizh Abu Bakar Ibnu al-’Arabi al-Maliki, dan juga Ibnu Taimiyah.<br />
Kedua: Boleh mengamalkan hadits dha’if tetapi khusus yang berkaitan dalam bab Fadhail al-A’mal, dan targhib wa tarhib (motivasi dan ancaman). Kebolehan  ini tidak berlaku dalam masalah lainnya, apalagi soal halal dan haram, serta aqidah.  Mereka yang menyebutkan kebolehan ini adalah sebagian ahli Fiqih dan ahli Hadits, diantaranya:  al-Hafizh Ibnu Abdil Barr, Ibnu Sholah, dan al-Imam Nawawi rahimahumullah.<br />
Ketiga: Boleh mengamalkan secara mutlak,  artinya baik dalam masalah fiqh, aqidah dan selainnya, namun dengan syarat jika dalam masalah itu tidak didapatkan hadits yang lebih kuat dari apa yang ada. </p>
<p>SYARAT ULAMA TENTANG PERIWAYATAN HADITS DHA’IF<br />
Mereka yang membolehkan periwayatan hadits dha’if dalam masalah fadha’ilul a’mal, juga menetapkan sejumlah syarat yang ketat bagi kita saat benar-benar akan menjalankannya:<br />
Harus dipastikan bahwa meskipun dhoif, tetapi masih dalam kategori yang wajar, artinya tidak lemah sekali , apalagi maudhu’ atau palsu.<br />
Tidak dijadikan asal dan sandaran dalam menentukan sebuah hukum, tapi hendaknya ada hadits lain yang shohih dan kuat untuk menjadi referensi utamanya.<br />
Tidak meyakini bahwa Rasulullah SAW benar-benar melakukan atau menyebutkannya. Hadits itu diamalkan hanya karena kehati-hatian ketimbang mengamalkan sesuatu yang tidak ada dasarnya sama sekali.<br />
Memastikan bahwa hadits tersebut khusus untuk Fadhoil al-A’mal atau Targhib wa Tarhib. Bukan dalam masalah aqidah, halal haram, ataupun tafsir Al-Quran.</p>
<p>HADITS DHA’IF DAN PALSU TENTANG PUASA RAMADHAN<br />
PUASA, SEHAT!<br />
صوموا تصحوا“Berpuasalah, kalian akan sehat.”<br />
Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Nu’aim di ath-Thibbun Nabawi sebagaimana dikatakan oleh al-Hafizh al-’Iraqi diTakhrijul Ihya’ (3/108), oleh ath-Thabrani di al-Awsath (2/225), oleh Ibnu ‘Adi dalam al-Kamil Fid Dhu’afa (3/227).<br />
Hadits ini dhaif (lemah), sebagaimana dikatakan oleh al-Hafizh al-’Iraqi di Takhrijul Ihya (3/108), juga al-Albani di Silsilah adh-Dha’ifah (253). Bahkan ash-Shaghani agak berlebihan mengatakan hadits ini maudhu’ (palsu) dalam Maudhu’at ash-Shaghani.<br />
Keterangan: jika memang terdapat penelitian ilmiah dari para ahli medis bahwa puasa itu dapat menyehatkan tubuh, makna dari hadits dhaif ini benar, namun tetap tidak boleh dianggap sebagai sabda Nabi s.</p>
<p>TIDUR, IBADAH<br />
نَوْمُ الصَّائِمِ عِبَادَةٌ ، وَصُمْتُهُ تَسْبِيْحٌ ، وَدُعَاؤُهُ مُسْتَجَابٌ ، وَعَمَلُهُ مُضَاعَفٌ<br />
“Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah, diamnya adalah tasbih, do’anya dikabulkan, dan amalannya pun akan dilipatgandakan pahalanya.”<br />
Hadits ini diriwayatkan oleh Al Baihaqi di Syu’abul Iman (3/1437).<br />
Hadits ini dhaif, sebagaimana dikatakan Al Hafidz Al Iraqi dalam Takhrijul Ihya (1/310). Al Albani juga mendhaifkan hadits ini dalam Silsilah Adh Dha’ifah (4696).</p>
<p>riwayat lain:<br />
الصائم في عبادة وإن كان راقدا على فراشه<br />
“Orang yang berpuasa itu senantiasa dalam ibadah meskipun sedang tidur di atas ranjangnya.”<br />
Hadits ini diriwayatkan oleh Tammam (18/172). Hadits ini juga dhaif, sebagaimana dikatakan oleh Al Albani di Silsilah Adh-Dhaifah (653).<br />
Yang benar, tidur adalah perkara mubah (boleh) dan bukan ritual ibadah.<br />
Sebagaimana perkara mubah yang lain, tidur dapat bernilai ibadah jika diniatkan sebagai sarana penunjang ibadah. Misalnya, seseorang tidur karena khawatir tergoda untuk berbuka sebelum waktunya, atau tidur untuk mengistirahatkan tubuh agar kuat dalam beribadah.<br />
Sebaliknya, tidak setiap tidur orang berpuasa itu bernilai ibadah. Sebagai contoh, tidur karena malas, atau tidur karena kekenyangan setelah sahur.</p>
<p>Rahmah, Maghfirah, ‘Itqun minan Nar<br />
يا أيها الناس قد أظلكم شهر عظيم ، شهر فيه ليلة خير من ألف شهر ، جعل الله صيامه فريضة ، و قيام ليله تطوعا ، و من تقرب فيه بخصلة من الخير كان كمن أدى فريضة فيما سواه ، و من أدى فريضة كان كمن أدى سبعين فريضة فيما سواه ، و هو شهر الصبر و الصبر ثوابه الجنة ، و شهر المواساة ، و شهر يزاد فيه رزق المؤمن ، و من فطر فيه صائما كان مغفرة لذنوبه ، و عتق رقبته من النار ، و كان له مثل أجره من غير أن ينتقص من أجره شيء قالوا : يا رسول الله ليس كلنا يجد ما يفطر الصائم ، قال : يعطي الله هذا الثواب من فطر صائما على مذقة لبن ، أو تمرة ، أو شربة من ماء ، و من أشبع صائما سقاه الله من الحوض شربة لايظمأ حتى يدخل الجنة ، و هو شهر أوله رحمة و وسطه مغفرة و آخره عتق من النار ،<br />
Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah (1887), oleh Al Mahamili dalam Amaliyyah (293), Ibnu ‘Adi dalam Al Kamil Fid Dhu’afa (6/512), Al Mundziri dalam Targhib Wat Tarhib (2/115)<br />
Hadits ini didhaifkan oleh para pakar hadits seperti Al Mundziri dalam At Targhib Wat Tarhib (2/115), juga didhaifkan oleh Syaikh Ali Hasan Al Halabi di Shifatu Shaumin Nabiy (110), bahkan dikatakan oleh Abu Hatim Ar Razi dalam Al ‘Ilal (2/50) juga Al Albani dalam Silsilah Adh Dhaifah (871) bahwa hadits ini Munkar.<br />
Yang benar, di seluruh waktu di bulan Ramadhan terdapat rahmah, seluruhnya terdapat ampunan Allah dan seluruhnya terdapat kesempatan bagi seorang mukmin untuk terbebas dari api neraka, tidak hanya sepertiganya. Salah satu dalil yang menunjukkan hal ini adalah:<br />
من صام رمضان إيمانا واحتسابا ، غفر له ما تقدم من ذنبه<br />
“Orang yang puasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari no.38, Muslim, no.760)</p>
<p>DOA BERBUKA<br />
كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا أفطر قال : اللهم لك صمت وعلى رزقك أفطرت فتقبل مني إنك أنت السميع العليم<br />
“Biasanya Rasulullah S ketika berbuka membaca doa: Allahumma laka shumtu wa ‘alaa rizqika afthartu fataqabbal minni, innaka antas samii’ul ‘aliim.”<br />
Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Daud dalam Sunan-nya (2358), Adz Dzahabi dalam Al Muhadzab (4/1616), Ibnu Katsir dalam Irsyadul Faqih (289/1), Ibnul Mulaqqin dalam Badrul Munir (5/710)<br />
Ibnu Hajar Al Asqalani berkata di Al Futuhat Ar Rabbaniyyah (4/341) : “Hadits ini gharib, dan sanadnya lemah sekali”. Hadits ini juga didhaifkan oleh Asy Syaukani dalam Nailul Authar (4/301), juga oleh Al Albani di Dhaif Al Jami’ (4350). Dan doa dengan lafadz yang semisal, semua berkisar antara hadits lemah dan munkar.<br />
Sedangkan doa berbuka puasa yang tersebar dimasyarakat dengan lafadz:<br />
اللهم لك صمت و بك امنت و على رزقك افطرت برحمتك يا ارحم الراحمين<br />
Hadits ini tidak terdapat di kitab hadits manapun. Atau dengan kata lain, ini adalah hadits palsu. Sebagaimana dikatakan oleh Al Mulla Ali Al Qaari dalam kitab Mirqatul Mafatih Syarh Misykatul Mashabih: “Adapun doa yang tersebar di masyarakat dengan tambahan ‘wabika aamantu’ sama sekali tidak ada asalnya, walau secara makna memang benar.”<br />
yang lebih tepat…<br />
كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا أفطر قال ذهب الظمأ وابتلت العروق وثبت الأجر إن شاء الله<br />
“Biasanya Rasulullah s ketika berbuka puasa membaca doa:<br />
ذَهَبَ الظَمَأُ وَابْتَلَّتِ العُرُوْقُ وَثَبَتَ الأَجْرُ إنْ شَاءَ اللهُ<br />
“Rasa haus telah hilang, kerongkongan telah basah, semoga pahala didapatkan Insya Allah”<br />
Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Daud (2357), Ad Daruquthni (2/401), dan dihasankan oleh Ibnu Hajar Al Asqalani di Hidayatur Ruwah, 2/232 juga oleh Al Albani di Shahih Sunan Abi Daud.</p>
<p>SENGAJA TIDAK BERPUASA<br />
من أفطر يوما من رمضان من غير رخصة لم يقضه وإن صام الدهر كله<br />
“Orang yang sengaja tidak berpuasa pada suatu hari  di bulan Ramadhan, padahal ia bukan orang yang diberi keringanan, ia tidak akan dapat mengganti puasanya meski berpuasa terus menerus.”<br />
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari di Al’Ilal Al Kabir (116), oleh Abu Daud di Sunannya (2396), oleh Tirmidzi di Sunan-nya (723), Imam Ahmad di Al Mughni (4/367), Ad Daruquthni di Sunan-nya (2/441, 2/413), dan Al Baihaqi di Sunan-nya (4/228).<br />
Hadits ini didhaifkan oleh Al Bukhari, Imam Ahmad, Ibnu Hazm di Al Muhalla (6/183), Al Baihaqi, Ibnu Abdil Barr dalam At Tamhid (7/173), juga oleh Al Albani di Dhaif At Tirmidzi (723), Dhaif Abi Daud (2396), Dhaif Al Jami’ (5462) dan Silsilah Adh Dha’ifah (4557).<br />
Namun, memang sebagian ulama ada yang menshahihkan hadits ini seperti Abu Hatim Ar Razi di Al Ilal (2/17), juga ada yang menghasankan seperti Ibnu Hajar Al Asqalani di Hidayatur Ruwah (2/329) dan Al Haitsami di Majma’ Az Zawaid (3/171). Oleh karena itu, ulama berbeda pendapat mengenai ada-tidaknya qadha bagi orang yang sengaja tidak berpuasa.<br />
Yang benar -wal ‘ilmu ‘indallah- adalah penjelasan Lajnah Daimah Lil Buhuts Wal Ifta (Komisi Fatwa Saudi Arabia), yang menyatakan bahwa “Seseorang yang sengaja tidak berpuasa tanpa udzur syar’i,ia harus bertaubat kepada Allah dan mengganti puasa yang telah ditinggalkannya.” (Lihat: Fatawa Lajnah Da’imah no. 16480, 9/191)</p>
<p>RAMADHAN<br />
لا تقولوا رمضان فإن رمضان اسم من أسماء الله تعالى ولكن قولوا شهر رمضان<br />
“Jangan menyebut dengan ‘Ramadhan’ karena ia adalah salah satu nama Allah, namun sebutlah dengan ‘Bulan Ramadhan.’”<br />
Hadits ini diriwayatkan oleh Al Baihaqi dalam Sunan-nya (4/201), Adz Dzaahabi dalam Mizanul I’tidal (4/247), Ibnu ‘Adi dalam Al Kamil Fid Dhu’afa (8/313), Ibnu Katsir di Tafsir-nya (1/310).<br />
Ibnul Jauzi dalam Al Maudhuat (2/545) mengatakan hadits ini palsu. Namun, yang benar adalah sebagaimana yang dikatakan oleh As Suyuthi dalam An Nukat ‘alal Maudhuat (41) bahwa “Hadits ini dhaif, bukan palsu”. Hadits ini juga didhaifkan oleh Ibnu ‘Adi dalam Al Kamil Fid Dhu’afa (8/313), An Nawawi dalam Al Adzkar (475), oleh Ibnu Hajar Al Asqalani dalam Fathul Baari (4/135) dan Al Albani dalam Silsilah Adh Dhaifah (6768).<br />
Yang benar adalah boleh mengatakan ‘Ramadhan’ saja, sebagaimana pendapat jumhur ulama karena banyak hadits yang menyebutkan ‘Ramadhan’ tanpa ‘Syahru (bulan)’.</p>
<p>ZAKAT FITHRI<br />
أن شهر رمضان متعلق بين السماء والأرض لا يرفع إلا بزكاة الفطر<br />
“Bulan Ramadhan bergantung di antara langit dan bumi. Tidak ada yang dapat mengangkatnya kecuali zakat fithri.”<br />
Hadits ini disebutkan oleh Al Mundziri di At Targhib Wat Tarhib (2/157). Al Albani mendhaifkan hadits ini dalam Dhaif At Targhib (664), dan Silsilah Ahadits Dhaifah (43).<br />
Yang benar, jika dari hadits ini terdapat orang yang meyakini bahwa puasa Ramadhan tidak diterima jika belum membayar zakat fithri, keyakinan ini salah, karena haditsnya dhaif.<br />
Zakat fithri bukanlah syarat sah puasa Ramadhan, namun jika seseorang meninggalkannya ia mendapat dosa tersendiri.</p>
<p>BULAN UMATKU<br />
رجب شهر الله ، وشعبان شهري ، ورمضان شهر أمتي<br />
“Rajab adalah bulan Allah, Sya’ban adalah bulanku, dan Ramadhan adalah bulan umatku.”<br />
Hadits ini diriwayatkan oleh Adz Dzahabi di Tartibul Maudhu’at (162, 183), Ibnu Asakir di Mu’jam Asy Syuyukh (1/186).<br />
Hadits ini didhaifkan oleh di Asy Syaukani di Nailul Authar (4/334),  dan Al Albani di Silsilah Adh Dhaifah (4400).<br />
Bahkan hadits ini dikatakan hadits palsu oleh banyak ulama seperti Adz Dzahabi di Tartibul Maudhu’at (162, 183), Ash Shaghani dalam Al Maudhu’at (72), Ibnul Qayyim dalam Al Manaarul Munif (76), Ibnu Hajar Al Asqalani dalam Tabyinul Ujab (20).</p>
<p>MEMBERI HIDANGAN BERBUKA<br />
من فطر صائما على طعام وشراب من حلال صلت عليه الملائكة في ساعات شهر رمضان وصلى عليه جبرائيل ليلة القدر<br />
“Barangsiapa memberi hidangan berbuka puasa dengan makanan dan minuman yang halal, para malaikat bershalawat kepadanya selama bulan Ramadhan dan Jibril bershalawat kepadanya di malam lailatul qadar.”<br />
Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam Al Majruhin (1/300), Al Baihaqi di Syu’abul Iman (3/1441), Ibnu ‘Adi dalam Al Kamil Adh Dhuafa (3/318), Al Mundziri dalam At Targhib Wat Tarhib (1/152)<br />
Hadits ini didhaifkan oleh Ibnul Jauzi di Al Maudhuat (2/555), As Sakhawi dalam Maqasidul Hasanah (495), Al Albani dalam Dhaif At Targhib (654)<br />
Yang benar,orang yang memberikan hidangan berbuka puasa akan mendapatkan pahala puasa orang yang diberi hidangan tadi, berdasarkan hadits:<br />
من فطر صائما كان له مثل أجره ، غير أنه لا ينقص من أجر الصائم شيئا<br />
“Siapa saja yang memberikan hidangan berbuka puasa kepada orang lain yang berpuasa, ia akan mendapatkan pahala orang tersebut tanpa sedikitpun mengurangi pahalanya.” (HR. At Tirmidzi no 807, ia berkata: “Hasan shahih”)</p>
<p>JIHAD AKBAR<br />
رجعنا من الجهاد الأصغر إلى الجهاد الأكبر . قالوا : وما الجهاد الأكبر ؟ قال : جهاد القلب<br />
“Kita telah kembali dari jihad yang kecil menuju jihad yang besar.” Para sahabat bertanya: “Apakah jihad yang besar itu?” Beliau bersabda: “Jihadnya hati melawan hawa nafsu.”<br />
Menurut Al Hafidz Al Iraqi dalam Takhrijul Ihya (2/6) hadits ini diriwayatkan oleh Al Baihaqi dalam Az Zuhd. Ibnu Hajar Al Asqalani dalam Takhrijul Kasyaf (4/114) juga mengatakan hadits ini diriwayatkan oleh An Nasa’i dalam Al Kuna.<br />
Hadits ini adalah hadits palsu. Sebagaimana dikatakan oleh Syaikhul Islam di Majmu Fatawa (11/197), juga oleh Al Mulla Ali Al Qari dalam Al Asrar Al Marfu’ah (211). Al Albani dalam Silsilah Adh Dhaifah (2460) mengatakan hadits ini Munkar.<br />
Hadits ini sering dibawakan para khatib dan dikaitkan dengan Ramadhan, yaitu untuk mengatakan bahwa jihad melawan hawa nafsu di bulan Ramadhan lebih utama dari jihad berperang di jalan Allah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata, “Hadits ini tidak ada asalnya. Tidak ada seorang pun ulama hadits yang berangapan seperti ini, baik dari perkataan maupun perbuatan Nabi. Selain itu jihad melawan orang kafir adalah amal yang paling mulia. Bahkan jihad yang tidak wajib pun merupakan amalan sunnah yang paling dianjurkan.” (Majmu’ Fatawa, 11/197). Artinya, makna dari hadits palsu ini pun tidak benar karena jihad berperang di jalan Allah adalah amalan yang paling mulia. Selain itu, orang yang terjun berperang di jalan Allah tentunya telah berhasil mengalahkan hawa nafsunya untuk meninggalkan dunia dan orang-orang yang ia sayangi.</p>
<p>Taqabbalallah…<br />
قال وائلة : لقيت رسول الله صلى الله عليه وسلم يوم عيد فقلت : تقبل الله منا ومنك ، قال : نعم تقبل الله منا ومنك<br />
“Wa’ilah berkata, “Aku bertemu dengan Rasulullah s pada hari Ied, lalu aku berkata: Taqabbalallahu minna wa minka.” Beliau bersabda: “Ya, Taqabbalallahu minna wa minka.”<br />
Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam Al Majruhin (2/319), Al Baihaqi dalam Sunan-nya (3/319), Adz Dzahabi dalam Al Muhadzab (3/1246)<br />
Hadits ini didhaifkan oleh Ibnu ‘Adi dalam Al Kamil Fid Dhuafa (7/524), oleh Ibnu Qaisirani dalam Dzakiratul Huffadz (4/1950), oleh Al Albani dalam Silsilah Adh Dhaifah (5666).<br />
Yang benar, ucapan ‘Taqabbalallahu Minna Wa Minka’ diucapkan sebagian sahabat berdasarkan sebuah riwayat:<br />
كان أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا التقوا يوم العيد يقول بعضهم لبعض : تقبل الله منا ومنك<br />
“Para sahabat Rasulullah s biasanya ketika saling berjumpa di hari Ied mereka mengucapkan: Taqabbalallahu Minna Wa Minka (Semoga Allah menerima amal ibadah saya dan amal ibadah Anda)”<br />
Atsar ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Al Mughni (3/294), dishahihkan oleh Al Albani dalam Tamamul Minnah (354). Oleh karena itu, boleh mengamalkan ucapan ini, asalkan tidak diyakini sebagai hadits Nabi s.</p>
<p>PEMBATAL PUASA<br />
خمس تفطر الصائم ، وتنقض الوضوء : الكذب ، والغيبة ، والنميمة ، والنظر بالشهوة ، واليمين الفاجرة<br />
“Lima hal yang membatalkan puasa dan membatalkan wudhu: berbohong, ghibah, namimah, melihat lawan jenis dengan syahwat, dan bersumpah palsu.”<br />
Hadits ini diriwayatkan oleh Al Jauraqani di Al Abathil (1/351), oleh Ibnul Jauzi di Al Maudhu’at (1131)<br />
Yang benar, lima hal tersebut bukanlah pembatal puasa, namun pembatal pahala puasa. Sebagaimana hadits:<br />
من لم يدع قول الزور والعمل به والجهل ، فليس لله حاجة أن يدع طعامه وشرابه<br />
Hadits ini adalah hadits palsu, sebagaimana dijelaskan Ibnul Jauzi di Al Maudhu’at (1131), Al Albani dalam Silsilah Adh Dhaifah (1708).<br />
“Orang yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan mengamalkannya, serta mengganggu orang lain, maka Allah tidak butuh terhadap puasanya.” (HR. Bukhari, no.6057)</p>
<p>RAMADHAN SEPANJANG TAHUN<br />
لَوْ يَعْلَمُ اْلعِبَادُ مَا فِي رَمَضَانَ لَتَمَنَّتْ أُمَّتيِ أَنْ يَكُوْنَ رَمَضاَنُ السَّنَةَ كُلَّهَا، إِنّ اْلجَنَّةَ لَتُزَيَّنُ لِرَمَضَانَ مِنْ رَأْسِ اْلحَوْلِ إِلىَ اْلحَوْلِ &#8230;<br />
&#8220;Seandainya hamba-hamba tahu apa yang ada di bulan Ramadhan pasti ummatku akan berangan-angan agar Ramadhan itu jadi satu tahun seluruhnya, sesungguhnya Surga dihiasi untuk Ramadhan dari awal tahun kepada tahun berikutnya&#8230;.&#8221; hadits ini panjang.<br />
Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah (no. 1886) dan dinukil oleh Ibnul Jauzi dalam Kitabul Maudhu&#8217;at (Kitab tentang Hadits-hadits palsu, 2/188-189) dan Abu Ya&#8217;la di dalam Musnad-nya sebagaimana pada al-Muthalibul Aaliyah (Bab A-B/ manuskrip) dari jalan Jabir bin Burdah, dari Abi Mas&#8217;ud Al-Ghifari.<br />
Hadits ini Maudhu&#8217; (palsu), cacatnya pada Jabir bin Ayyub, riwayat hidupnya dinukil Ibnu Hajar dalam Lisanul Mizan (2/101) dan (beliau) berkata: &#8220;Terkenal dengan kelemahan (dha&#8217;if)&#8221; beliau juga menukil ucapan Abu Nu&#8217;aim tentangnya: &#8220;Dia itu suka memalsukan hadits.&#8221; Al-Bukhari juga berkata, &#8220;Haditsnya tertolak&#8221;, dan menurut an-Nasai, &#8220;matruk&#8221; (ditinggalkan/tidak dipakai haditsnya).&#8221;!!</p>
<p>Semoga bermanfaat&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://annabawi.com/2011/08/01/beberapa-hadits-lemah-dhaif-dan-palsu-tentang-puasa-ramadhan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>MARHABAN YA RAMADHAN&#8230;</title>
		<link>http://annabawi.com/2011/07/30/marhaban-ya-ramadhan/</link>
		<comments>http://annabawi.com/2011/07/30/marhaban-ya-ramadhan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 30 Jul 2011 12:22:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nirwan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Info An-Nabawi]]></category>
		<category><![CDATA[Kegiatan rutin]]></category>
		<category><![CDATA[News Flash]]></category>
		<category><![CDATA[Pengumuman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://annabawi.com/?p=303</guid>
		<description><![CDATA[Selamat Menunaikan Puasa Ramadhan 1432 H]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>بسم الله الرحمن الرحيم</p>
<p>DKM An-Nabawi dan keluarga besar An-Nabawi mengucapkan selamat menjalankan ibadah puasa kepada seluruh kaum muslimin dan muslimat&#8230; Semoga pada Ramadhan 1432 H ini kita kembali mendapat keberkahannya&#8230; Amin ya Rabbal &#8216;alamien&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://annabawi.com/2011/07/30/marhaban-ya-ramadhan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>RAPAT KERJA DKM</title>
		<link>http://annabawi.com/2011/02/05/rapat-kerja-dkm/</link>
		<comments>http://annabawi.com/2011/02/05/rapat-kerja-dkm/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Feb 2011 08:05:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nirwan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Info An-Nabawi]]></category>
		<category><![CDATA[Kegiatan rutin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://annabawi.com/?p=299</guid>
		<description><![CDATA[Catatan penting yang disampaikan pada pertemuan ini adalah bahwa pencapaian yang berhasil diraih pada tahun 2010 yang lalu adalah hasil kerja tim yang sebenarnya terdiri dari personil-personil yang sudah punya kesibukan sendiri dalam kehidupan kesehariannya. Bisa dikatakan, sebenarnya waktu yang dimanfaatkan untuk ikut memikirkan kondisi masjid An-Nabawi ini adalah waktu 'sisa'. Namun demikian, berkat keikhlasan dan kesungguhan serta soliditas tim, alhamdulillah secara kinerja dan keuangan, DKM An-Nabawi bisa dikatakan sukses. 

]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hari ini, Sabtu 2 Rabiul Awwal 1432 H/ 5 Februari 2011, para pengurus DKM An-Nabawi melaksanakan rapat kerja untuk menyusun program kerja setiap bidang sampai akhir tahun ini. </p>
<p>Diawali dengan sambutan Ketua Pembina Yayasan An-Nabawi dan Ketua Yayasan An-Nabawi, dalam acara ini Ketua DKM An-Nabawi menjelaskan tentang capaian kinerja dan keuangan DKM pada tahun 2010 yang lalu, berikut penjelasan tentang beberapa kendala sehingga tidak terlaksananya beberapa program kegiatan atau tidak maksimalnya pelaksanaan satu kegiatan. </p>
<p>Catatan penting yang disampaikan pada pertemuan ini adalah bahwa pencapaian yang berhasil diraih pada tahun 2010 yang lalu adalah hasil kerja tim yang sebenarnya terdiri dari personil-personil yang sudah punya kesibukan sendiri dalam kehidupan kesehariannya. Bisa dikatakan, sebenarnya waktu yang dimanfaatkan untuk ikut memikirkan kondisi masjid An-Nabawi ini adalah waktu &#8217;sisa&#8217;. Namun demikian, berkat keikhlasan dan kesungguhan serta soliditas tim, alhamdulillah secara kinerja dan keuangan, DKM An-Nabawi bisa dikatakan sukses. </p>
<p>Untuk lebih lengkapnya, laporan kinerja dan keuangan DKM An-Nabawi di tahun2010 lalu dapat dilihat di mading masjid An-Nabawi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://annabawi.com/2011/02/05/rapat-kerja-dkm/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>KHITANAN MASSAL</title>
		<link>http://annabawi.com/2011/01/04/khitanan-massal/</link>
		<comments>http://annabawi.com/2011/01/04/khitanan-massal/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 04 Jan 2011 04:27:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nirwan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Info An-Nabawi]]></category>
		<category><![CDATA[Kegiatan rutin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://annabawi.com/2011/01/04/khitanan-massal/</guid>
		<description><![CDATA[Banyak manfaat yang bisa diambil, khususnya bagi DKM, di mana kegiatan yang relatif rutin diselenggarakan di setiap tahunnya ini semakin efektif dan efisien pelaksanaannya, tidak terlampau menyibukkan pengurus dan jamaah Masjid An-Nabawi, juga tidak terlalu membutuhkan biaya yang besar, karena sebagian besar perangkat-perangkat yang dibutuhkan sudah disiapkan oleh RZI. Masjid An-Nabawi cukup menyiapkan tempat dan terlibat dalam upacara seremonial. ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Alhamdulillah, DKM An-Nabawi dan Bazis An-Nabawi bekerjasama dengan Rumah Zakat Indonesia (RZI) Cabang Tangerang telah sukses menyelenggarakan kegiatan Khitanan Massal pada hari Sabtu, 1 Januari 2011.</p>
<p>Khitanan Massal ini diikuti oleh 58 orang anak yang berasal dari warga sekitar Masjid An-Nabawi dan Kecamatan Cipondoh, di mana masing-masing anak juga mendapatkan bingkisan dan uang saku alakadarnya dari panitia.</p>
<p>Acara ini diawali dengan upacara pembukaan pada pukul 07:30 WIB dan berakhir lebih kurang pada pukul 11:00 WIB. Waktu yang relatif cepat karena melibatkan tenaga dokter dan medis profesional dan terlatih.</p>
<p>Banyak manfaat yang bisa diambil, khususnya bagi DKM, di mana kegiatan yang relatif rutin diselenggarakan di setiap tahunnya ini semakin efektif dan efisien pelaksanaannya, tidak terlampau menyibukkan pengurus dan jamaah Masjid An-Nabawi, juga tidak terlalu membutuhkan biaya yang besar, karena sebagian besar perangkat-perangkat yang dibutuhkan sudah disiapkan oleh RZI. Masjid An-Nabawi cukup menyiapkan tempat dan terlibat dalam upacara seremonial. </p>
<p>Alhamdulillah, inilah hikmah bersinergi (ta&#8217;awun) diantara lembaga-lembaga keislaman. Kita tidak usah repot mengawali satu jenis kegiatan yang sudah secara rutin dilakukan oleh suatu lembaga. Masjid An-Nabawi sangat terbantu oleh kehadiran Rumah Zakat Indonesia dalam pelaksanaan Khitanan Massal kemarin. Semoga di masa-masa yang akan datang, sinergi ini semakin meningkat, baik secara kualitas maupun kuantitas. Amin.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://annabawi.com/2011/01/04/khitanan-massal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

